Social Icons

Pages

Tuesday, August 25, 2015

Mie Kopyok Semarang



Sesuai dengan namanya, Mie Kopyok Semarang merupakan masakan berbahan dasar mie yang khas dari Semarang. Sejauh yang penulis ketahui, mie ini hanya bisa ditemui di daerah Semarang dan sekitarnya saja. Misalnya di daerah Ungaran, Demak atau Kendal. Sangat susah ditemukan di tempat lain.

Hidangan dengan ciri khas tambahan tahu dan krupuk gentar ini, biasanya dijajakan dengan berkeliling menggunakan gerobak keliling dari gang ke gang, dari kampung ke kampung lain. Ada juga beberapa orang Semarang yang menyebutnya mie lontong, karena memang salag satu bahan utamanya adalah lontong.

Mie khas Kota Lunpia ini berisi potongan lontong, mie dan tauge yang disajikan dengan cara direndam air panas mendidih sebentar sehingga tauge tidak terlalu matang. Diberi irisan lontong dan tahu pong. Setelah itu ditambahkan bumbu air bawang putih. Terakhir dibubuhkan irisan seledri dan bawang merah goreng. Hemmmm, maknyus ... Sebagai ciri khas yang tak pernah dilupakan adalah krupuk karak atau gendar (krupuk dari beras) diremas. Tak lupa kecap dan sambal.

Kuahnya dari air kaldu ayam yang dibubuhi garam dan merica bubuk. Dalam penyajiannya, kaldu tersebut harus dalam keadaan mendidih. Pembuatan mie ini cukup sederhana. Bagi yang ingin mencoba. Silakan ke kota Semarang. Pasti banyak penjaja mie enak ini.


Sumber gambar : miekopyokpakdhuwur dot wordpress dot com

Thursday, July 30, 2015

Festival Waisak di Candi Terbesar Dunia Borobudur


Banyak juga diantara kita, orang Indonesia, yang belum tahu bahwa salah satu event budaya kelas dunia yang banyak diminati turis Internasional ada di Indonesia. Salah satu event budaya yang begitu banyak mendapat perhatian masyarakat dunia itu adalah event budaya Waisak atau ada yang menyebutnya Festival Waisak yang diadakan di Candi Borobudur , salah satu 7 keajaiban dunia. Festival ini akan berlangsung sekitar bulan Mei dan bulan Juni setiap tahunnya. 

Festifal tersebut masuk dalam rangkaian kegiatan keagamaan Hari Tri Suci Waisak yang dimotori oleh  12 Majelis Agama Buddha dan 1 Lembaga Keagamaan Buddha Indonesia yang bergabung di Walubi. Tahun 2015 , Hari Besar Keagamaan tersebut diatas jatuh pada tanggal 2 Juni 2015. Ada dua destinasi wisata yang dipergunakan pada acara itu, yaitu Candi Mendut dan Candi Borobudur. Inti dari festival diadakan di Candi Borobudur, tempat suci kuno yang dibangun pada abad ke-9 Masehi.



Rangkaian Festival Waisak diawali dengan pengambilan Api Suci dari sumber api abadi yang ada di kecamatan Purwodadi Kabupaten Grobogan yang dilakukan sehari sebelumnya. Api ini merupakan gambaran dari semangat umat manusia untuk terus berusaha mewujudkan pencerahan diri. Api Suci akan dibawa ke Candi Mendut untuk “menginap” di sana sebelum dipakai dalam Ibadah Hari Tri Suci Waisak di Candi Termegah Borobudur. 


Pada malam hari, sekitar pukul 10 malam sampai dengan 12 malam diadakan pembacaan doa atau mantera yang dipimpin oleh kepala biksu atau bante. Yang menarik disini adalah peserta yang mengikuti acara ini berasal dari banyak negara seperti Thailand, Tiongkok, Philipina, Myanmar, Singapura, Malaysia, Srilanka, dan beberapa negara di Asia. Pembacaan doa ini dilakukan sesuai dengan bahasa masing-masing. Kita akan mendengar banyak bahasa dalam kegiatan ini, yang mewakili umat Buddha dari seluruh dunia.

Keesokan harinya, Api Suci akan dibawa menuju Candi Borobudur dengan berjalan kaki dari Candi Mendut. Robongan biksu yang membawa Api Suci tersebut akan diiringi oleh arak- arakan yang membawa buah- buahan dan sayur – sayuran sebagai persembahan. Perjalanan dari Candi Mendut ke Candi Borobudur ini sangat menarik. Banyak wisatawan mancanegara yang menyempatkan diri melihat acara ini. Oleh wisatawan mancanegara , acara ini sering disebut dengan The Walk to Wisdom.




Setelah tiba di Candi Terbesar Dunia, rangkaian Hari Tri Suci Waisak dilanjutkan dengan penghormatan tertinggi kepada Sidharta Gautama, ditandai dengan mengelilingi Candi Borobudur sebanyak tiga kali dan searah dengan jarum jam. Ritual ini dinamai Ritual Pradaksina. Berlangsung dari jam 6 sore sampai selesai. Uniknya, pada penghujung ritual ini ada akan ada pelepasan 1000 lampion. Pemandangan yang sangat indah , sayang sekali dilewatkan. Bayangkan 1000 lampion terbang di langit Borobudur di malam hari yang cerah. Event yang dicatat dalam buku rencana liburan para wisatawan mancanegara. Sebagai wisatawan dalam negeri, kita tidak boleh melewatkan event ini. 

Yang boleh melepaskan lampion bukan hanya umat yang merayakan Hari Tri Suci Waisak disana. Semua orang yang hadir termasuk wisatawan lokal maupun mancanegara diperbolehkan melepas lampion yang bermakna melepas energi negatif dari dalam diri kita. Pelepasan lampion ini adalah penutup dari seluruh rangkaian 7 Ritual Suci Waisak.





Bagi yang ingin melihat seperti apa Festival Waisak di Borobudur, bisa lihat video berikut ini :




Sumber foto / video : 
www (dot) fest300 (dot) com
www (dot) print (dot) kompas (dot) com
www (dot) youtube (dot) com

Tuesday, June 30, 2015

Sam Poo Kong, Tiongkok Kecil di Jawa Tengah


Klenteng ini dikenal masyarakat Semarang dan sekitarnya dengan nama Klenteng Gedong Batu. Namun masyarakat luas lebih mengenalnya dengan nama Klenteng Sam Poo Kong. Klenteng ini memang dibangun oleh Sam Poo Kong atau Sam Poo Tay Djien dalam kunjungannya ke Semarang pada masa lalu. Orang Jawa Tengah sendiri lebih mengenal Sam Poo Tay Djien sebagai Laksamana Cheng Ho.

Konon, waktu Laksamana Cheng Ho lewat disekitar laut Jawa (utara Semarang sekarang ) sekitar tahun 1400, banyak anak buah kapalnya yang jatuh sakit. Untuk itu beliau memerintahkan untuk membuang jangkar di pantai terdekat. Ditempat itulah beliau menemukan gua batu. Dulu gua tersebut ada di pinggir pantai, namun sekarang berada di tengah kota karena pendangkalan pantai selama ratusan tahun. Di gua tersebut Laksamana Cheng Ho sering bersembahyang dan bermeditasi.

Masyarakat Semarang menyebutnya Gedong Batu karena  pada awalnya ditempat tersebut adalah gua besar pada sebuah bukit batu ( Gedong = bangunan, Batu = batu ) . Bentuknya mirip bangunan arsitektur Tiongkok , mirip klenteng. Pada lokasi gua tersebut dibangun tempat untuk tempat bersembahyang dan tempat ziarah bagi sebagai Laksamana Cheng Ho. Pada gua batu tersebut dibuat sebuah altar dan patung – patung Sam Poo Tay Djien. Sekarang gua aslinya sudah longsor pada tahun 1724 masehi.

Setelah Laksamana Cheng Ho melanjutkan perjalanannya, banyak awak kapalnya yang akhirnya menetap di daerah gua tersebut ( sekarang daerah Simongan Semarang) dan menikah dengan penduduk setempat. Sebelum meninggalkan awalnya ditempat tersebut, beliau mengajarkan cara bercocok tanam pada awaknya.


Salah satu bangunan ber-arsitektur Tiongkok 

Klenteng yang berada di daerah Simongan ini dapat ditempuh sekitar 10 menit dari Simpanglima Semarang dengan menggunakan kendaraan umum taksi atau sekitar 20 menit dengan angkutan perkotaan. Jaraknya cukup dekat, hanya 3 kilometer dari lapangan Pancasila Simpanglima. Menurut beberapa sumber, gua batu tersebut diatas merupakan tempat persinggahan atau pendaratan pertama Laksamana  Zheng He atau Cheng Ho.

Di klenteng yang dikelilingi oleh pohon yang sejuk ini juga terdapat makam Juru Mudi Kapal Laksamana Cheng Ho yang dikenal dengan nama Kyai Juru Mudi. Di dalam klenteng itu sendiri ada patung Laksamana Cheng Ho yang berlapis emas. Sedangkan di dindingnya terdapat relief perjalanan Cheng Ho, utamanya persinggahannya di Pulau Jawa.


Suasana sejuk dan teduh di sekitar Klenteng Sam Poo Kong


Dalam kompleks klenteng yang telah direnovasi tahun 2002 dan 2005 ini ada satu klenteng besar dan dua bangunan untuk sembahyang yang kecil. Tempat sembahyang itu disebut klenteng Thao Tee Kong yang diperuntukkan bagi Dewa Bumi.

Ada pula tempat yang dinamakan tempat Kyai Jangkar yang berisi jangkar kapal asli milik Laksamana Cheng Ho. Disini biasanya dipergunakan untuk mendoakan arwah yang tidak bersanak keluarga yang belum mendapat tempat dialam baka atau disebut arwah Ho Ping.

Tidak semua tempat boleh dikunjungi oleh para wisatawan yang masuk dengan biaya 3000 rupiah per orang ini. Ada beberapa tempat yang hanya diperbolehkan dikunjungi wisatawan.

Namun pemandangan disana tetap saja sayang dilewatkan. Sangat menarik. Kalau kita memasuki kawasan ini, serasa berada di negeri Tiongkok. Banyak bangunan dan patung khas negeri Tiongkok yang bisa kita temui disini. Ada area luas didepan kantin klenteng yang sangat teduh. Sangat pas untuk melepas lelah. Membuat kita makin nyaman disana. Tidak heran klenteng yang telah dipugar dengan biaya 20 miliar rupiah ini menjadi tujuan wisata dari turis manca negara.



Istri, anak dan beberapa saudara dari Bandung yang berfoto di depan patung Cheng Ho terbesar di dunia. 


Sangat rugi kalau belum pernah berkunjung kesana.

Yang menjadikan tempat khas tidak itu saja, tapi di dalam area klenteng dengan patung Cheng Ho terbesar didunia ini terdapat mushola yang bisa dipergunakan untuk bersembahyang umat muslim.


Mushola dalam kompleks Klenteng Sam Poo Kong


Dihalamannya terdapat banyak bangunan menarik dengan sejumlah patung yang menarik dengan ukuran besar. Mungkin patung patung seperti ini hanya ada disini. Rugi besar kalau tidak kesana. Apalagi saat ada perayaan Cheng Ho. Waaahh. Banyak kesenian daerah ditampilkan disana. Termasuk tarian daerah Jawa Tengah dan Barongsai.


Patung patung khas Tiongkok

Perayaan Cheng Ho ini biasanya digelar pada bulan Agustus. Ada banyak hal yang bisa kita nikmati disana selain tari-tarian. Ada bazar, ada arak-arakan. Pada perayaan ini kita bisa menemui banyak wisatawan dari Tiongkok yang berziarah kesana. Tapi tidak hanya wisatawan dari Tiongkok saja, banyak juga pelancong dari Amerika, Rusia dan negara di Amerika Latin.



Sumber :
Brosur terbitan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah
Brosur terbitan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang
Cerita dari beberapa  kenalan.
wikipedia
 

Produk Baru

Produk Sponsor

Produk Baru

Produk Baru
 
Blogger Templates